Mak Yong yang dijadikan topik buku ini adalah satu jenis
tradisi lisan yang menggabungkan unsur-unsur ritual, cerita, tari, dan musik,
ter-dapat di Bintan, Batam, dan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Dalam
pementasannya, Mak Yong mempertemukan pemain/pelaku dan pementasannya dengan
penonton dalam ruang waktu dan tempat yang sama. Dalam perkembangan teknologi
saat ini, penonton dapat menyaksikan pementasan tersebut dalam bentuk rekaman
atau mencarinya di youtube.
Kajian yang bermula dari disertasi dan sudah dilengkapi
dengan data terbaru di-mulai dengan melakukan deskripsi pementasan/pertunjukan
yang “lengkap”, yang diharapkan dapat menjembatani pemain dan
pementasannya dengan penontonnya selaku
penikmat dan juga stakeholdernya. Muncul kontradiksi dalam hal ini, karena di
satu pihak pementasan tradisi lisan pada dasarnya bersifat satu kali (“einmalig”) saja, artinya setelah pementasan
berakhir maka Mak Yong pun sudah habis. Padahal di lain pihak, diperlukan melihat
kembali pementasan tersebut untuk dapat mengkajinya. Deskripsi dalam bentuk
rangkaian kata, suara, dan gambar yang dibuat seakan-akan membekukan peristiwa,
waktui, dan ruang dalam, sebuah pementasan, tetapi sebetulnya sudah merupakan
sumber data sekunder.
Selain fakta metodologi tersebut yang menarik dalam kajian
tradisi lisan, hal lain yang muncul dalam kajian Mak Yong ini adalah sifat
kecairan dan kepekatan pementasan tradiri lisan. Kecairan mendukung fungsi
hiburan dan resistensi nakyat terhadap raja/penguasa sedangkan, kepekataan
mendukung fungsi pengajaran dan pengukuhan nilai. Hubungan raja dan rakyat
bersifat egaliter, demokratis seperti falsafah ke-pemimpinan Melayu, raja alim
raja disembah, raja lalim raja disanggah”. Kecairan mengurai suasana tegang
atau genting dengan frasa “mari bersenang”, merupakan salah satu formula
andalan Mak Yong.
Kajian ini adalah “cerita/kisah” perjalanan sebuah tradisi
lisan di dalam komunitasnya yang masih mengandalkan kelisanan dan di luarnya
yang sudah memasuki dunia keberaksaraan dan era disrups teknologi. Interaksi
antara dunia kelisanan dan ke-beraksaraan merupakan dinamika yang menarik,
antara sistem biropkrasi yang ada tapi tidak tampak ada, peran panitia yang
dominan, kebijakan penguasa mengenai seni, dan sistem sanggar mewarnai
perjalanan Mak Yong menembus ke masa kini melalui masa kejayaan dua orde
politik tertentu di Indonesia.
| Info Buku | |
| ISBN | Masih dalam proses |
| Dimensi | 16x24 cm |
| Jenis Cover | Soft cover |
| Jenis Kertas | Book Paper |
| Berat | 400 gram |
| Jumlah Halaman | xii+346 halaman |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Penerbit | Yayasan Pustaka Obor Indonesia |
MAK YONG Mengangkat Batang Terendam
- Yayasan Pustaka Obor Indonesia
- Penulis: Pudentia, MPSS
- Ketersediaan: Tersedia
-
Rp.0
Produk Terkait
Jelajah Ekspansi Wacana dan Praktik Ekowisata dalam Politik Kepariwisataan Bali
Pengembangan ekowisata terjadi dalam ruang yang be..
Rp.0




